Showing posts with label Bogor. Show all posts
Showing posts with label Bogor. Show all posts

Saturday, September 26, 2020

Rujak Buni

Di Bogor semakin jarang melihat buah buni. Jangankan melihat, banyak pula yang tidak tahu buah buni. Apalagi rujak buni.

Spanduk yang menarik minat

 Saya menemukan seorang penjual rujak buni di daerah Sawah Baru, dekat pertigaan jalan Raya Dramaga dengan jalan baru yang menuju ke arah terminal Laladon. Sebelumnya saya telah beberapa kali melewati penjual tersebut, tetapi rasa penasaran saya tidak cukup kuat untuk menghentikan kendaraan yang saya kendarai dan membelinya, sampai akhirnya siang ini saya mampir juga.

Gerobak Rujak Buah Buni Bogor

Rujak buah buni menggunakan bahan-bahan yang sederhana antara lain buah buni segar yang telah berwarna merah, cabe rawit, gula merah, garam dan terasi. Hanya itu. Perbedaan rasa ditentukan oleh takaran rasio bahan-bahan tadi, tentu saja dengan buah buni sebagai bahan yang dominan.

Bang Fai, sang penjual rujak, pertama kali memasukan cabe rawit segar ke dalam ulekan berukuran lebar dan menggerusnya. Setelah halus, lalu gula merah, garam dan terasi dimasukkan kemudian digerus. Buah buni segar yang ditakar menggunakan cangkir plastik yang biasa digunakan untuk mengemas air minum dalam kemasan, langsung ditambahkan dan digerus dengan kuat sampai daging buahnya hancur. Hancuran buah huni tersebut mengeluarkan jus buah berwarna merah keunguan dengan jumlah cukup banyak sehingga tidak perlu ditambahkan air.

 

Bahan-bahan pembuatan rujak buni

Setelah seluruh bahan tercampur dengan rata, rujak buni segera dimasukan ke dalam kemasan gelas plastik ber tutup. Barang langka tersebut saya tebus dengan harga Rp. 15,000.

Semua Bahan Diulek Jadi Satu

Rasanya? Seger banget, lebih enak dan tidak sekecut dari yang saya bayangkan sebelumnya. Tapi ternyata memakan rujak huni ini memerlukan kesabaran juga karena biji buah buni tercampur pula di dalamnya. Bijinya keras dan banyak. Saya gak tahu bagaimana orang lain memakannya, apakah bijinya ikut ditelan atau tidak. Saya memilih dibuang setelah dikunyak-kunyah, lebih tepat dikulum-kulum karena bijinya keras, dan tidak ada rasanya lagi.

Rujak Buah Buni Dalam Kemasan

Sepertinya lebih praktis kalau dibuat jus ya?

Buah buni dihasilkan oleh pohon buni (Antidesma bunius). Saya belum pernah melihat langsung fotonya, kecuali dari foto hasil googling. Buahnya dapat dimakan segar, dibuat selai atau, konon di Filipina jus buah ini dibuat menjadi tuak. Buah ini disebut juga dengan boni, huni (Sunda), wuni (Jawa), bignai (Filipina).

Bang Fai, Penjual Rujak Buah Buni

Bang Fai sudah berjualan rujak buni di tempat tersebut sekitar 3 bulan dan bertempat tinggal di daerah Babakan Madang, dekat Sentul.

Kamu sudah pernah makan buah buni atau olahannya?

(Dramaga, 26 September 2020)



Wednesday, October 29, 2014

Sawo Duren (Chrysophyllum cainito)

Jalan-jalan menyusuri Jalan Suryakencana, Bogor selalu menarik. Banyak toko-toko yang telah membuka usaha sejak jaman dahulu dan juga keragaman jajanan khas Bogor yang dijual di sepanjang jalan tersebut selalu menjadi daya tarik tersendiri.

Penjual buah-buahan pun bertebaran di emperan toko. Meski memakan trotoar jatahnya pejalan kaki tetapi tidak terasa mengganggu. Selain buah-buahan yang lazim dijual, misalnya mangga dan jeruk, seringkali pula dijual buah-buahan yang sudah langka. Setidaknya di Bogor.

Kali ini saya  melihat buah bundar berwarna hijau dengan semburat ungu. Semakin tua warnanya semakin ungu.

Sawo duren/sawo manila yang dijual di Jl. Suryakancana, Bogor

Rasa penasaran saya terusik, memaksa saya menghentikan langkah untuk melihat buat tersebut. Penjualnya menyebutnya sebagai sawo manila. Saya membelinya dengan harga Rp. 25,000/kg. Sepertinya mahal, tetapi tidak bagi rasa penasaran saya.

Sesampainya di rumah saya segera belah buah tersebut. Cairan putih encer keluar saat buah tersebut dibelah. Semakin muda buah tersebut maka semakin banyak cairan putihnya.

Penampang buah setelah dibelah


Informasi nama buah dari penjualnya dan mencecap rasanya tidak membuat rasa penasaran saya terpuaskan. Setelah googling barulah diperoleh informasi lebih banyak. Menurut Wikipedia nama buah ini di berbagai daerah di Indonesia adalah sawo apel, sawo ijo atau apel ijo (Jawa Tengah), sawo hejo (Jawa Barat), sawo kadu (Banten), kenitu atau manécu (Jawa Timur), dan sawo manila (Lampung).

Di negara lain disebut juga star apple karena jika dibelah akan terlihat pola seperti bintang. Sayang saya membelahnya dengan arah yang berbeda sehingga pada foto di atas tidak terlihat pola bintang.

Buahnya lunak setelah matang dan kulitnya tidak bisa dikupas. Untuk memakannya buah harus dibelah. Pada saat dibelah itulah keluar cairan putih encer, terutama pada buah muda. Cairan putih itulah yang membuat buah ini disebut juga milk fruit. Bahkan di Vietnam disebut vú sữa yang secara literal berarti air susu ibu (breast-milk).

Cara memakan buah yang paling praktis adalah disendok (seperti memakan buah kiwi). Hati-hati jangan sampai bagian berwarna ungu dekat kulit luar termakan, karena terasa agak pahit dan kesat. Daging buah di bagian tengah yang berwarna putih terasa manis dan segar, dengan tekstur mirip sawo kecik.

Photo credit: Imanudin (imanusinto@yahoo.com)

Referensi:
http://en.wikipedia.org/wiki/Chrysophyllum_cainito
http://ecocrop.fao.org/ecocrop/srv/en/cropView?id=689
https://www.hort.purdue.edu/newcrop/morton/star_apple.html
http://ntbg.org/plants/plant_details.php?plantid=11871