Wednesday, October 3, 2012

The Mystical Dieng's Temples

I visited Dieng plateau in the highlands of Central Java, Indonesia back in May 2010 as my very first visit. The plateau actually sits at the floor of ancient giant caldera of mount Prahu. You could find at least 8 craters, high geothermal potential, and volcanic gas emission which sometime is deadly. Let's leave alone those volcanic stuffs.

It has 6 lakes including Telaga Warna. If you happen to be there, don't forget to observe sunrise. Mount Sikunir is one of the most popular spot to observe sunrise. I have a post on observing sunrise in Dieng in this link, here.

Dieng also is a home to some oldest Hindu temples in Indonesia. There are 4 group of temples in Dieng:
  1. Arjuna temple complex, consist of Temple Arjuna, Temple Semar, Temple Srikandi, Temple Sembadra, and Temple Puntadewa
  2. Temple Gatutkaca
  3. Temple Dwarawati
  4. Temple Bima

I visited Arjuna complex and Temple Bima only, due to time shortage. I took some pictures of those temples.

Tips: weather in Dieng may change very quick. Morning time is the best time for taking pictures before dark clouds coming at you at noon time.

Temple Bima

The entrance to Temple Bima

Temple Bima - rear view

Temple Bima

Arjuna Complex


The name sign of temple Arjuna complex

Temple Arjuna (left) facing temple Semar (right)

Temple Arjuna
  
Temple Semar

One of reliefs

Temple Srikandi (left), Temple Sembadra (middle), Temple Puntadewa (right)

A view of Temple Srikandi and Sembadra, from the inside of Temple Semar

Saturday, September 22, 2012

Sekelumit Kisah Dari Perjalanan ke Guangxi



Musim Semi - April 2007

Berangkat jam 6 pagi dari Hanoi menggunakan minibus menuju Lang Son di perbatasan Cina, ditemani seorang staf biro perjalanan yang menyediakan penerjemah Cina yang bisa berbahasa Vietnam. Saya akan menjadi "obyek serah terima" antara dia dengan penerjemah merangkap guide di perbatasan Cina. Saya ditugaskan perusahaan tempat saya bekerja untuk mengunjungi pusat perdagangan rempah-rempah di Guangxi, tetapi saya tidak akan menceritakan hal tersebut. Saya hanya ingin mengabadikan kenangan di luar urusan pekerjaan yang saya peroleh selama perjalanan tersebut, sebelum terlupakan digerogoti waktu.

Sesampainya di perbatasan sekitar jam 10, bertemu dengan guide saya dan melanjutkan perjalanan dengan taksi ke kota terdekat, Pingxiang. Di sana saya makan masakan yang sangat enak, phi tan (sejenis telur asin) ditumis. Tetapi telurnya sudah melalui proses sedemikian rupa sehingga kuning telur berubah warna menjadi hitam dan putih telurnya menjadi transparan seperti jeli.

sepiring phi tan, favorit saya

Kereta api membawa kami ke ibukota propinsi Guangxi, Nanning. Melihat dari pakaian sederhana dan gaya berbicara yang akrab saya menduga para penumpang sebagian besar "orang kampung" yang mau ke kota. Mereka sangat ramah dan tidak malu-malu berinteraksi dengan saya meskipun tidak memahami bahasa masing-masing.

Gerbong kereta api Cina lebih lebar daripada di Indonesia, menggunakan rel standard gauge 1,435mm

Stasiun Kereta Api Kota Nanning, mungkin begitu arti tulisan di atas bangunan tersebut

Stasiun kereta api Nanning adalah sebuah bangunan yang sangat luas. Begitu keluar dari stasiun ternyata Cina memang serba besar. Jalan-jalan lebar, trotoar lebar, bangunan tinggi seolah berlomba-lomba dibangun. Suasana kota Nanning memberikan kesan kota yang sedang tumbuh cepat dengan kegiatan masyarakat yang dinamis. Nanning diproyeksikan menjadi hub perdagangan Cina dengan negara-negara ASEAN. Penginapan yang sudah dipesan guide saya ternyata tidak jauh dari stasiun, terletak di seberang jalan.

Sebagian gedung pencakar langit di Nanning yang terlihat dari atas bis kota

Di luar dugaan, saya menemukan restoran muslim tidak jauh dari penginapan. Di situlah saya seumur-umur memakan mi tarik dan melihat langsung cara membuatnya sebelum dimasak. Saya senang makan di sana, selain halal rasanya enak dan porsinya besar. Bermalam di Nanning hanyalah untuk transit.

Mi tarik yang dibuat langsung sesaat sebelum dimasak

Banyak restoran di Nanning menyediakan ini di atas meja pengunjung, misterius karena gak bisa baca labelnya

Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan dengan bis ke kota Yulin. Yulin dikenal sebagai sentra perdagangan rempah-rempah dan bahan baku ramuan herbal. Di sana saya mempir ke pasar yang menjual rempah-rempah dan ramuan herbal termasuk binatang-binatang yang dikeringkan untuk obat. Tokek, ular, biawak, kadal….

Pasar Khusus Obat Tradisional Cina di Yulin, begitu katanya

Sebelum melanjutkan perjalanan keesokan harinya, saya mencari sesuatu untuk sarapan. Saya menemukan penjual makanan dari tepung terigu dan telur. Dilihat bentuknya mirip dengan banh cuon di Hanoi. Itulah sarapan saya hari itu, bisa dilihat pada gambar di bawah ini.

Nama makanan ini? Yang jelas terbuat dari tepung terigu, telur, dikukus dan digulung setelah matang. Disajikan dengan sejenis kecap, yang botolnya ada di gambar sebelumnya


Persinggahan saya berikutnya adalah kota Wuzhou, terletak persis di perbatasan propinsi Guangxi dengan Guangzhou. Kayumanis sikiang yang terkenal banyak diperdagangkan di Wuzhou. Kota Wuzhou lebih kecil dari Nanning dan Yulin tetapi jelas terlihat aktifitas perekonomian kota ini sedang menggeliat. Pemandangan dari jendela kamar hotel saya dipenuhi dengan ruko-ruko tempat berniaga.

Pemandangan pagi hari dari jendela penginapan di Wuzhou, musim semi masih menyisakan dingin dan kelabunya musim dingin
Lokasi tempat yang dikunjungi pada peta (sumber Google Maps)

Wuzhou adalah persinggahan terakhir sebelum kembali ke Nanning. Saya merasa seperti kembali ke peradaban ketika tiba kembali di Nanning larut malam. Paling tidak ada beberapa hal yang saya kenal, Pizza Hut dan McDonald. Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik makan di situ. Masalahnya malam itu adalah malam terakhir saya ditemani guide. Bahasa menjadi kendala tetapi Pizza Hut dan MacDonald memiliki store manager yang bisa berbahasa Inggris.

Pak sopir taksi yang ramah, membawa kami di Wuzhou

Bis yang saya naiki kembali dari Nanning ke Hanoi, istirahat di rest area jalan tol menuju perbatasan Vietnam. Jika teliti di dalam bis terlihat ada pramugari bis dengan seragam senada warna bis

Berbeda dengan saat saya tiba, kali ini saya menggunakan bis dari Nanning langsung ke Hanoi keesokan paginya. Sebenarnya tidak langsung, kami berganti bis di perbatasan. Mereka mengganti bis Cina yang besar dengan bis Vietnam yang berukuran lebih kecil di perbatasan. Sore hari itu, saya sudah kembali ke rumah kontrakan saya di Hanoi, dengan banyak kenangan dari perjalanan di Guangxi.

Wednesday, January 4, 2012

My First HDR Picture

HDR? I had no idea what this word mean. What I knew was it relates to surrealistic looking pictures. I visited a group in flickr named "HDR". Then it led me to dig HDR further and made me realize that I needed a software assisstant to generate HDR pictures. Professor Google told me some available freeware, and I chosed Picturenaut.

After some trial-and-error sessions (tripod or handheld? static or dynamic object?) finally I got my first decent HDR pictures, no ghosting. I used a Nikon D90, Nikkor 35mm/1:1.8G lens, ML-3 remote shutter, Aperture Priority mode f/5.6, ISO-200, bracketing +/- 2 stops and put the camera on a chair. This is the result:

Exposure time 1/6 sec (-2.0)


Exposure time 0.62 sec (0.0)


Exposure time 2.5 sec (+2.0)



The result

I didn't do any processing on these pictures but HDR processing by Picturenaut. No curve, no brightness, no white balance nor other adjustment. Sure, this picture is not in the same league with pictures in this link. But this has made me so excited...... I didn't pay attention on composition, color balance at all. I just wanted to get one decent HDR picture first.

Next stop: try to get better HDR pictures, composition, framing, color, exposure....... or maybe better software?

By the way, thanks to my 9-years old son for holding his breath for these pictures. Any comment would be highly appreciated.

Note: I still have another HDR picture in my Photoblog page, here.

Sunday, August 15, 2010

Nha Trang's Sand Art

She was sitting under a shade at a corner at the Po Nagar Tower site. My curiousity dragged me to see what she was doing closer. She had glass tumblers filled with different colored sands, arranged on a tray. One colored sand in one glass tumbler. A small box made of glass was put on a rotatable round platform. But she let the top of the box open.

a sketch on each of vertical surface

one colored sand  in one tumbler

Soon, I realized that she was about to make a sand art. I heard about this on TV before, but it was for the very first time I saw somebody was actually making it right before my eyes.

filling in the glass box with colored sands

a rotatable platform was very helpful

She made a sketch on the vertical surface of the glass box by a pen. One sketch on one vertical side. On the glass box, I saw two different sketches on it's 2 vertical sides. Next step was filling in the glass box by colored sands by a tool, similar to very small spoons. She managed to fill different colored sands by using the sketch as a guide. Occasionally, she used a tiny stick to ensure that the surface of the sands follows the sketch lines.


ensuring the sand surface follow the sketch lines

She kept doing that until the box was fully filled by the colored sands. She carefull checked the content of the box to ensure that she didn't leave some empty space in the glass box. Then she covered the top of the box by a small plan glass glued by silicone glue.

voila!


This kind of art started in Petra of Jordan in 1920's or earlier. They packed multi-colored sands in bottles and sold it to tourists as souvenirs. No one recalls precisely who started it or when (if you're interested in more details, click here).

Saturday, August 7, 2010

A Hindu footprint in Vietnam

I was blessed with opportunities to travel to a lot of places in Vietnam. I saw a lot of Buddhist / Confucianism temples all over the country. But when I saw this ancient Cham temple, I felt being alienated from Vietnam cultures I got used to. The temple was Tháp Bà Po Nagar (the Po Nagar Tower)


I got impression that I must be in Cambodia or Laos. Even the red bricks material reminded me to Bali. But hey..., that was the hint!. The common thing here was the Hindu influence.

With currently over 50,000 followers, Hindu community is a minority among 84-million population in Vietnam. Most of them are Cham ethnicity.



The Po Nagar Tower was one of the most important Hindu temples in Vietnam beside My Son in Quang Nam and Po Klaung Garai (Poklongarai) in Phan Rang.




To visit the tower was easy. It was located by the Cái river, not far from Nha Trang downtown. Plenty of public buses went passing by the tower, or you could take the xe ôm (motorbike taxi).

Sunday, June 27, 2010

Menyiapkan Kopi a la Vietnam

Alat & Bahan:

penyaring atas, wadah penyaring, tutup (kiri ke kanan)
Penyaring kopi (dalam bahasa Vietnam: phin cà phê), cangkir, sendok, kopi bubuk kasar (coarse ground coffee)

Langkah 1. Masukkan bubuk kopi ke dalam penyaring

Biasanya penyaring kopi Vietnam terdiri dari 3 bagian: (1) wadah penyaring, (2) penyaring atas, (3) tutup. Wadah penyaring diletakkan di atas cangkir. Masukkan kopi bubuk sebanyak kurang lebih 3 sendok teh penuh. Ratakan permukaannya.

Takaran satu sendok teh penuh

Langkah 2. Tutup dengan penyaring atas, tekan dengan lembut

Letakkan penyaring atas di atas kopi
Letakkan penyaring atas menutupi kopi, tekan dengan lembut agar kopi lebih padat. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi udara yang terperangkap di antara serbuk kopi sehingga air tidak mengalir terlalu deras.
  
Tekan agar lebih padat


Langkah 3. Masukkan air panas


Air mendidih lebih baik
Masukkan air panas perlahan-lahan sampai penuh. Disarankan menggunakan air mendidih karena akan mengekstrak kopi lebih baik. Air panas dari dispenser pun bisa digunakan dan hasilnya tidak terlalu mengecewakan.

Langkah 4. Tutup dan tunggu

Setelah air panas dimasukkan, tutup penyaring kopi untuk mempertahankan suhu air. Air panas akan mengalir perlahan melalui serbuk-serbuk kopi. Air yang jatuh ke cangkir sudah berwarna hitam dengan aroma kopi yang kuat. Citarasa kopi yang dihasilkan akan semakin kuat jika air menetes lambat dan suhu air tinggi.

Biarkan air menetes habis
Di Vietnam proses ini dilakukan sekali sehingga air kopi yang dihasilkan sedikit tetapi sangat kental. Saya biasa menambahkan air panas sekali lagi setelah air yang pertama turun semua karena masih banyak citarasa kopi yang tertinggal di dalam serbuk kopi.

Untuk sebagian orang di Indonesia, proses menyiapkan kopi a la Vietnam ini terlalu lama dan ribet dibandingkan menyeduh dengan memasukkan kopi bubuk dan gula ke dalam cangkir, masukkan air panas dan mengaduknya. Tapi percayalah, rasa kopi yang dihasilkan sangat mantap, nendang! 

Langkah 5. Nikmati kopi a la Vietnam

Kopi a la Vietnam
Kopi anda sudah siap. Orang barat biasanya meminumnya langsung tanpa penambahan gula atau creamer. Katanya kalau ditambah gula, bisa menutupi rasa kopi aslinya. Saya pun terbiasa tidak menambahkan gula, tetapi kadang-kadang saya tambahkan 1 sendok teh gula pasir.

Tips
  • Gunakan bubuk kopi dengan butiran agak kasar. Kopi bubuk yang tersedia di Indonesia biasanya terlalu halus sehingga mudah lolos dari saringan. Saya biasanya membeli kopi yang masih berbentuk biji, kemudian digiling dengan blender (atau coffee grinder / miller).
  • Orang Vietnam menggunakan sedikit gula pasir yang dicampur belakangan sesuai selera. Susu kental manis juga populer digunakan sebagai campuran. Biasanya susu kental manis sudah dimasukkan ke dalam cangkir terlebih dahulu sebelum kopi.
  • Kopi ini juga enak dikonsumsi dalam keadaan dingin dengan cara menambahkan es batu. Cà phê sữa đá (cà phê = kopi, sữa = susu, đá = es batu) sangat populer di Vietnam terutama di musim panas.

Saturday, June 12, 2010

Telaga Warna

This is the second part of my trip story to Dieng plateau, the first one is my previous post Sunrise Above The Clouds.

Observing the sunrise from the top of Sikunir hill requires you to get up early at 4-am and climb the hill for 25 minutes, if you stay in Dieng village. But if you stay in Wonosobo, you need to leave the town at 3-am. The "show" would last till 6.30-am. Still early for a breakfast. Then you have time to do something before having breakfast. Telaga Warna is just right there for you by being located between Sikunir hill and Dieng village.

Telaga Cebong in the shade

I was surprised when I saw a lake from the point I started climbing Sikunir hill that morning. I knew I was there before, and been told there was a lake there. But it was to dark to see anything. It was Cebong lake, named after its tadpole shape ((ke)cebong is tadpole in Indonesian). I was not sure if its shape really looked like a tadpole or not. That was not important, the lake was nice. Hiding in the shadow of ajoining hill. Taking its picture was difficult since its extreme contrast. After taking some pictures I continued my trip to Telaga Warna.

The main gate to Telaga Warna

The high roof main gate to Telaga Warna make it seen easily. The car park was at the main gate's opposite side of the road. I came in at 7-am after paying the ticket. Visiting this lake that early gave me huge advantage, no crowd! As soon as I enter the gate, the strong sulfuric smell hanging in the air just like at many other places in Dieng plateau.

The green colored water of Telaga Warna
 The water was green, I couldn't see anything in it. No small fish, no waterbugs, it just lukewarm acidic water. Some birds were swimming in the lake, they must be taking a bath. I believed it was called Telaga Warna due to its green colored water.  I walked further following a con-block pathway around the lake. It led me to a statue. It was Gajah Mada statue in golden color, with a closed cave by it. It was a sacred meditation place. I soon found out that Telaga Warna site not only had a lake, but also 4 caves/places for meditation: Batu Tulis, Gua Semar, Gua Sumur, and Gua Jaran (Gua is cave in Indonesian). I was not sure if they were still used currently, all were closed.


Gua Batutulis, guarded by Gajah Mada statue
Gua Semar entry
A statue at the Gua Sumur entry













All of the mediation caves were located in a kind of dyke between Telaga Warna and Telaga Pengilon. If Telaga Warna gave me a sterile impression by not having fishes in it, Telaga Pengilon was rich of life. Fishes, bugs, tadpoles, more birds and... fishermen. It had brownish colored water.

I wished I could get to a higher place for a better view on the lakes. God answered my wish, even though I had to punish my lung and legs for a climbing a hill for the second time that morning..... and the view was amazing! Telaga Warna, Telaga Pengilon were there. Mount Sindoro in the background was a big bonus.


Telaga Warna with Telaga Pengilon and mount Sindoro in the background
I took some pictures and gave my lung and legs time to recover before I went down for a breakfast and another destination in Dieng.

Another view to the lake

Click here for more pictures.


Iman
Pemalang, June 13 2010