Malam itu saya dan kolega ditraktir bos makan malam rumah makam padang. Berawal dari salah satu menu yang dicampur irisan jengkol pembicaraan beralih ke jenis-jenis makanan "hardcore", seperti jengkol dan petai.
Hampir semua sepakat bahwa jengkol yang paling bau, kecuali satu orang yang "keukeuh" bilang ada yang lebih bau dari jengkol dan petai. Namanya? Sayang dia lupa, tapi bentuknya kecil, hitam dan lebih bau dari jengkol. Dia pernah makan sekali sewaktu berada di salah satu desa pesisir di Lampung Timur.
Setelah kasak-kusuk bertanya ke teman-teman orang Lampung, diperoleh informasi ada buah yang lebih bau dari jengkol. Konon, baunya adalah kombinasi bau jengkol dan petai. Dahsyat! Namanya julang jaling.
Akhirnya saya bisa mendapatkan julang-jaling dengan bantuan teman yang membelinya di pasar kaget di daerah Tanjung Bintang, Bandarlampung.
Ternyata reputasi julang-jaling yang saya terima berdasarkan info teman-teman benar adanya. Baunya campuran jengkol dan petai. Secara fisik julang-jaling berkulit hitam kecoklatan (seperti jengkol) tapi warna dagingnya hijau (seperti petai). Segenggam julang-jaling segar yang belum diapa-apakan mampu menyebarkan aromanya ke seluruh ruangan dalam hitungan menit!
Secara ilmiah julang jaling ini lebih dekat ke jengkol, mungkin itu sebabnya warna kulitnya mirip jengkol. Pohonnya saya belum pernah melihat langsung. Untuk penjelasan rinci, silakan kunjungi laman Wikipedia yang tautannya ada di bagian bawah artikel ini.
Teman saya biasa memakan julang jaling dalam bentuk segar dimakan bersama sambal. Ada juga yang digoreng terlebih dahulu. Ada juga yang dijadikan campuran kacang-teri.
Biasanya yang membuat jengkol dan petai dimusuhi adalah baunya, terutama setelah dikonsumsi. Mulut bau, nafas bau, juga tidak "toilet-umum-friendly". Untuk dua "bau" yang pertama saya sudah menemukan cara jitu untuk menangkalnya, dan sudah terbukti. Setelah mengkonsumsi jengkol atau petai, makanlan mentimun segar paling tidak satu buah.
Untuk julang jaling, saya belum pernah jajal keampuhan mentimun. Julang jaling yang saya dapatkan di Lampung bulan Maret 2010 lalu, sampai sekarang masih saya sembunyikan di kulkas, di kompartemen sayuran dan dibungkus plastik 3 lapis. Karena konon baunya dahsyat, sampai sekarang saya menunggu saat yang tepat untuk jajal julang jaling, saat libur panjang di rumah! Khawatir jadi repot juga kalau bepergian dengan aroma julang jaling.
Informasi lebih lanjut bisa dilihat dengan meng-klik tautan-tautan berikut: sherryfreddy atau Wikipedia.
Iman
Pemalang, 19 Mei 2010