Saturday, June 12, 2010

Telaga Warna

This is the second part of my trip story to Dieng plateau, the first one is my previous post Sunrise Above The Clouds.

Observing the sunrise from the top of Sikunir hill requires you to get up early at 4-am and climb the hill for 25 minutes, if you stay in Dieng village. But if you stay in Wonosobo, you need to leave the town at 3-am. The "show" would last till 6.30-am. Still early for a breakfast. Then you have time to do something before having breakfast. Telaga Warna is just right there for you by being located between Sikunir hill and Dieng village.

Telaga Cebong in the shade

I was surprised when I saw a lake from the point I started climbing Sikunir hill that morning. I knew I was there before, and been told there was a lake there. But it was to dark to see anything. It was Cebong lake, named after its tadpole shape ((ke)cebong is tadpole in Indonesian). I was not sure if its shape really looked like a tadpole or not. That was not important, the lake was nice. Hiding in the shadow of ajoining hill. Taking its picture was difficult since its extreme contrast. After taking some pictures I continued my trip to Telaga Warna.

The main gate to Telaga Warna

The high roof main gate to Telaga Warna make it seen easily. The car park was at the main gate's opposite side of the road. I came in at 7-am after paying the ticket. Visiting this lake that early gave me huge advantage, no crowd! As soon as I enter the gate, the strong sulfuric smell hanging in the air just like at many other places in Dieng plateau.

The green colored water of Telaga Warna
 The water was green, I couldn't see anything in it. No small fish, no waterbugs, it just lukewarm acidic water. Some birds were swimming in the lake, they must be taking a bath. I believed it was called Telaga Warna due to its green colored water.  I walked further following a con-block pathway around the lake. It led me to a statue. It was Gajah Mada statue in golden color, with a closed cave by it. It was a sacred meditation place. I soon found out that Telaga Warna site not only had a lake, but also 4 caves/places for meditation: Batu Tulis, Gua Semar, Gua Sumur, and Gua Jaran (Gua is cave in Indonesian). I was not sure if they were still used currently, all were closed.


Gua Batutulis, guarded by Gajah Mada statue
Gua Semar entry
A statue at the Gua Sumur entry













All of the mediation caves were located in a kind of dyke between Telaga Warna and Telaga Pengilon. If Telaga Warna gave me a sterile impression by not having fishes in it, Telaga Pengilon was rich of life. Fishes, bugs, tadpoles, more birds and... fishermen. It had brownish colored water.

I wished I could get to a higher place for a better view on the lakes. God answered my wish, even though I had to punish my lung and legs for a climbing a hill for the second time that morning..... and the view was amazing! Telaga Warna, Telaga Pengilon were there. Mount Sindoro in the background was a big bonus.


Telaga Warna with Telaga Pengilon and mount Sindoro in the background
I took some pictures and gave my lung and legs time to recover before I went down for a breakfast and another destination in Dieng.

Another view to the lake

Click here for more pictures.


Iman
Pemalang, June 13 2010

Sunday, May 30, 2010

Sunrise Above The Clouds

Arriving late in Dieng Plateau that night (11-pm) didn't give comfortable options in choice a hotel. I did checked "Bu Jono" (mean Mrs. Jono), a hotel in Dieng mentioned by backpackers in the internet. It didn't impress me, and no one was inside. That led me to another hotel just by its side. Again, nobody answered to the door bell. Yeah..... I was the one to blame. I believe not many visitors come to Dieng that late.

A local approached me offering his service to find a hotel to my preference, later on he became my guide. He took me to another hotel few hundreds meter away from "Bu Jono". After checking the room, negotiated the price then I decided to take this "Flamboyan Hotel". Sharing a clean room, twin beds with hot water shower with my driver for Rp. 150,000/night (USD 16).

I asked my guide the best place to observe the sunrise in Dieng. He suggested a place in Sikunir. I didn't have a problem with that but the time. He would wake me up at 4-am to climb a hill a half an hour later. That was the problem!

We drove a car from the hotel to Sikunir hill for 15-minutes. It was dark and cold. Dieng Plateau was at 2,000 m plus above sea level. Even in the tropical area, that height will give you a cold weather. In August it's normal to have a frosty morning in Dieng.

Pak Wikno, my guide, told me it would be a 25-minutes climb. That was not a big deal, I thought. But soon I felt that 25-minute climb took forever. Thank God, I still had strong foot. But I could hardly breath. It was crystal clear that I had to stop my 2-years hiatus of aerobic exercises.

Finally I made it, and sat on a rock on the top of the hill to catch my breath back. It was still too early for a sunrise. I still had time to recover my ego from being beaten down by that 25-minute climb. Pak Wikno suggested me to stand here and there to get the best sunrise view. I ignored him, my top priority was to breath.

The sun then started to show up but the cloud between my eyes and the sun was there, blocking the view. I was disappointed a bit, but the overall view was really awesome. Being above the cloud gave me an extraordinary feeling.

Panoramic view of the sunrise

I started to take pictures as many as possible. Thanks to the digital technology, I didn't have to worry to run out of negative film anymore.

Gunung Sindoro stood beautiful, covered Gunung Sumbing from my view ("Gunung" is mountain in Indonesian). From the distance, I could see Gunung Merbabu and the infamous Gunung Merapi. The white clouds cover the villages and potato farms below.

Gunung Sindoro, can you see Gn. Merbabu and Merapi in the distance?

I just stayed there as long as possible to enjoy the magnificent view in front of my eyes until the sun was too high. I thought that was the end of the golden time, when the sunlight made everything turn to gold color.

I still have an unfinished business: went down the hill. I hoped it would be easier than climbing it up.

Click here for more pictures.

Thursday, May 20, 2010

Roda-Roda Gila

Pernah melihat truk trailer 18 roda yang biasa menarik kontainer? Ada satu yang saya lihat dan menarik perhatian saya, antara takjub dan kesal. Takjub karena tidak membayangkan ada truk yang nyaris semua bannya gak ada yang bener. Kesal sama sopir (atau pemiliknya?) kenapa bisa begitu lalai atas keselamatan dirinya dan pengguna lalu lintas lain. Heran juga kenapa bisa lolos uji KIR oleh DLLAJR (kalau ini pura-pura gak ngerti ;-) ).

Mari kita lihat:

Melihat penampilan fisik, sepertinya ini adalah truk bekas yang diimpor. Body cockpit sudah miring, tapi kata sopirnya : "ini gak apa-apa kok!".

Coba kita lihat semua bannya satu persatu, dimulai dari ban depan kiri ke belakang memutari truk, sampai terakhir roda depan kanan:

Roda #1

Roda # 2 & 3

Roda # 4 & 5
Roda # 6 & 7


Roda # 8 & 9

Roda # 10 & 11

Roda # 12 & 13
Roda # 14 & 15
Roda # 16 & 17
Roda # 18
Bagaimana? Saya sendiri jadi ingat lagu jadul milik Bangkit Sanjaya berjudul "Roda-roda Gila".

Dalam perspektif global, pada tahun 2004 kecelakaan lalu lintas menempati peringkat 9 penyebab kematian global. Peringkat ini diprediksi WHO akan naik menjadi peringkat 5 pada tahun 2030.

WHO mengeluarkan Road Traffic Deaths Index 2009 Rankings. Kali ini, nama Indonesia tidak tercantum di papan atas. Di dalam laporan itu, Indonesia menempati peringkat 91. Di antara negara ASEAN, peringkat Indonesia lebih baik dari Malaysia (peringkat 58), Myanmar (60), Filipina (70) dan Thailand (73). Tidak dijelaskan angka kematian akibat lalu lintas di Indonesia yang lebih kecil dari negara-negara tersebut tadi apakah karena disiplin dan kondisi sarana lalu lintas yang lebih baik atau karena intensitas penggunaan yang lebih rendah.

Ayo lihat ban mobil kita. Ada yang sudah tipis kembangannya? Benjol? Retak? Sudah terlalu banyak tambalan? Seyogyanya kondisi ban menjadi prioritas lebih dibandingkan dengan perangkat audio mobil, misalnya, karena menyangkut keamanan dan keselamatan berkendaraan.

Wednesday, May 19, 2010

Julang Jaling

Malam itu saya dan kolega ditraktir bos makan malam rumah makam padang. Berawal dari salah satu menu yang dicampur irisan jengkol pembicaraan beralih ke jenis-jenis makanan "hardcore", seperti jengkol dan petai.

Hampir semua sepakat bahwa jengkol yang paling bau, kecuali satu orang yang "keukeuh" bilang ada yang lebih bau dari jengkol dan petai. Namanya? Sayang dia lupa, tapi bentuknya kecil, hitam dan lebih bau dari jengkol. Dia pernah makan sekali sewaktu berada di salah satu desa pesisir di Lampung Timur.

Setelah kasak-kusuk bertanya ke teman-teman orang Lampung, diperoleh informasi ada buah yang lebih bau dari jengkol. Konon, baunya adalah kombinasi bau jengkol dan petai. Dahsyat! Namanya julang jaling.

Akhirnya saya bisa mendapatkan julang-jaling dengan bantuan teman yang membelinya di pasar kaget di daerah Tanjung Bintang, Bandarlampung.

Ternyata reputasi julang-jaling yang saya terima berdasarkan info teman-teman benar adanya. Baunya campuran jengkol dan petai. Secara fisik julang-jaling berkulit hitam kecoklatan (seperti jengkol) tapi warna dagingnya hijau (seperti petai). Segenggam julang-jaling segar yang belum diapa-apakan mampu menyebarkan aromanya ke seluruh ruangan dalam hitungan menit!

Julang jaling (Archidendron microcarpum)

Secara ilmiah julang jaling ini lebih dekat ke jengkol, mungkin itu sebabnya warna kulitnya mirip jengkol. Pohonnya saya belum pernah melihat langsung. Untuk penjelasan rinci, silakan kunjungi laman Wikipedia yang tautannya ada di bagian bawah artikel ini.

Teman saya biasa memakan julang jaling dalam bentuk segar dimakan bersama sambal. Ada juga yang digoreng terlebih dahulu. Ada juga yang dijadikan campuran kacang-teri.

Biasanya yang membuat jengkol dan petai dimusuhi adalah baunya, terutama setelah dikonsumsi. Mulut bau, nafas bau, juga tidak "toilet-umum-friendly". Untuk dua "bau" yang pertama saya sudah menemukan cara jitu untuk menangkalnya, dan sudah terbukti. Setelah mengkonsumsi jengkol atau petai, makanlan mentimun segar paling tidak satu buah.

Untuk julang jaling, saya belum pernah jajal keampuhan mentimun. Julang jaling yang saya dapatkan di Lampung bulan Maret 2010 lalu, sampai sekarang masih saya sembunyikan di kulkas, di kompartemen sayuran dan dibungkus plastik 3 lapis. Karena konon baunya dahsyat, sampai sekarang saya menunggu saat yang tepat untuk jajal julang jaling, saat libur panjang di rumah! Khawatir jadi repot juga kalau bepergian dengan aroma julang jaling.

Informasi lebih lanjut bisa dilihat dengan meng-klik tautan-tautan berikut: sherryfreddy atau Wikipedia.


Iman
Pemalang, 19 Mei 2010

Thursday, January 1, 2009

Selamat Tahun Baru 2009 - Sambutan Ketum Permai Hanoi


Assalamualaikum wr. wb.

Kali ini pergantian tahun lebih istimewa. Pergantian tahun Hijriyah, Masehi dan kalender bulan Cina terjadi dalam kurun waktu sebulan. Tahun 1430 H baru saja kita masuki pada 29 Desember 2008, hari ini adalah hari pertama tahun 2009 dan pada tanggal 26 Januari 2009 nanti insya Allah kita juga akan memasuki tahun baru kerbau.

Tahun 2008 baru saja kita lewati. Bagi masyindo di Hanoi dan sekitarnya beberapa tonggak peristiwa yang terjadi di tahun ini antara lain penempatan Duta Besar RI untuk Vietnam yang baru di bulan Mei dan juga suksesi kepengurusan Permai Hanoi di bulan Desember. Peristiwa tersebut menjadi penting seiring dengan semakin dinamisnya masyindo di Hanoi dan sekitarnya.

Di tahun 2008 banyak wajah baru masyindo yang tinggal di Hanoi. Aktivitas milis Permai Hanoi pun meningkat hampir 3 kali lipat dari rata-rata 60 posting/bulan di tahun 2007, menjadi 160 posting/bulan di tahun 2008.

Kehadiran weblog Masyindo Vietnam yang digagas mas Sugeng Endarsiwi di Binh Duong juga menjadi angin segar bagi eksistensi masyindo di Vietnam. Saat ini bisa dikatakan weblog Masyindo Vietnam telah menjadi perekat tiga komunitas masyindo di Vietnam: Permai Hanoi (Hanoi dan sekitarnya), Masyindo HCMC (Ho Chi Minh City dan sekitarnya) dan Masyindo Danang-Hoi An-Hue. Diharapkan fungsi yang dirintis oleh weblog ini akan semakin signifikan dan mengkristal dalam rangka semakin bersatunya ketiga komunitas masyindo di Vietnam tersebut.

Potensi-potensi di atas menjadi tantangan kita bersama untuk digali lebih dalam dan dikembangkan, selain untuk kepentingan masyindo itu sendiri, juga untuk menjadikan masyindo di Vietnam sebagai "duta-duta bangsa" di negeri Vietnam. Kerjasama antara ketiga komunitas masyindo di Vietnam, KBRI di Hanoi dan KJRI di HCMC akan menjadi kunci keberhasilan.

Tahun 2009 berdasarkan penanggalan bulan yang masih banyak dianut di Vietnam adalah tahun kerbau. Konon sifat-sifat yang melekat dengan tahun kerbau adalah tenang, kerja keras, sabar, bisa diandalkan, tetapi sekaligus ambisius, keras kepala. Apakah sifat-sifat tadi betul-betul akan menandai tahun 2009?

Walahualam....

Yang pasti dengan kecenderungan perekonomian dunia yang sedang menurun menuntut kita untuk bekerja lebih giat. Bagi masyindo di Vietnam persaingan global, sedikit atau banyak, telah menjadi kenyataan sehari-hari. Profesionalisme menjadi suatu keharusan.Dalam tahun 2009 pula kita akan menghadapi peristiwa penting Pemilu 2009 untuk memilih anggota DPR dan Presiden.
Marilah kita songsong tahun 2009 dengan kebersamaan, optimisme, kerja keras dan profesionalisme.

Selamat tahun baru 2009.

Indonesia Bisa!

Wassalamualaikum wr. wb.


Imanudin
Ketum Perhimpunan Masyarakat Indonesia - Chapter Hanoi (Permai Hanoi)

Saturday, December 13, 2008

Masjid Jamiul Niakmah - Phan Rang

Diawali suatu peristiwa yang terjadi kebetulan, saat sedang perjalanan dinas di propinsi Ninh Thuan penulis melewati sebuah bangunan yang unik, berbeda dari bangunan sekitarnya. Lokasinya persis di pinggir Jalan Raya 1A (Quoc Lo 1A) yang menghubungkan kota Hanoi dan Ho Chi Minh. Tepatnya sekitar 12 km dari kota Phan Rang ke arah selatan. Karena penasaran penulis menyempatkan diri berhenti untuk melihat bangunan tersebut dari dekat. Melihat bentuknya sepertinya masjid, tapi di Vietnam?

Terlihat bangunan tersebut sedang dalam tahap pembangunan. Penulis memasuki area bangunan dan mencoba berkomunikasi dengan para pekerja bangunan. Ternyata dugaan saya benar, sebuah masjid!

Sangat sulit berbicara dengan mereka yang menggunakan bahasa Vietnam dialek lokal. Seorang ibu tua mempersilakan saya mengunjungi sebuah rumah yang terletak di sebelah kiri masjid tersebut. Setelah tiba dan dipersilakan duduk barulah saya bertemu tuan rumah. Ternyata tuan rumah tersebut adalah Haji Abu Dawous, nama Vietnamnya adalah Nao Du. Beliau cerita tentang kesulitan dana untuk proses perbaikan masjid.

Penulis (tengah) bersama Haji Abu Dawous (kiri)


Masjid Jamiul Niakmah didirikan tahun 1968, sebagai tempat ibadah bagi sekitar 70-80 muslimin yang tinggal di situ. Kondisi fisik bangunan menurun drastis selama periode perang. Tahun 2005 seorang muslim dari Afrika Selatan mengunjungi masjid tersebut berdasarkan informasi yang diperolehnya selama di Malaysia. Pada tahun 2007 masjid tersebut dikunjungi delegasi muslim dari Afrika Selatan yang berminat mengirimkan hewan kurban. Mereka terkejut melihat kondisi bangunan masjid tersebut. Mereka kembali ke Afrika Selatan untuk menggalang dana bantuan perbaikan masjid. Mereka berhasil mengumpulkan dana sumbangan sebesar USD 67,000.

Mengenai kesulitan pendanaan perbaikan masjid, saya berjanji kepada Haji Dawous untuk menyampaikannya kepada teman-teman di Hanoi. Saya meminta Haji Dawous untuk menyiapkan surat pengantar permohonan bantuan beserta dokumen-dokumen pendukung. Pada tanggal 6 Juni 2008 alhamdulillah Haji Dawous berkunjung ke Hanoi dan bersilaturrahim dengan beberapa muslim di masjid Al Nur Hanoi.

Penulis bersama Haji Dawous, pak Pandji dan pak Ramadhan di masjid Al Nur - Hanoi


Setelah pertemuan kami dan Haji Dawous, rekan-rekan muslim masyindo segera mengkoordinir sumbangan untuk pembangunan masjid. Sumbangan tersebut diserahkan kepada Haji Dawous melalui Abdussalam, imam masjid Al Nur Hanoi, yang bertemu dan menyampaikan sumbangan tersebut kepada Haji Dawous.

Saat berkunjung kembali ke Phan Rang, penulis menyempatkan diri mengunjungi Masjid Jamiul Niakmah dan bertemu Haji Dawous. Sekarang proses perbaikan masjid sudah hampir selesai meskipuan belum seluruhnya tuntas. Pada kesempatan tersebut, Haji Dawous juga menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada muslim masyindo di Hanoi atas bantuan yang diberikan.


Masjid Jamiul Niakmah - 26 Mei 2008

Masjid Jamiul Niakmah - 4 Desember 2008

Saat ini di propinsi Ninh Thuan terdapat 4 buah masjid. Dua diantaranya berada di kecamatan Ninh Hai, dan dua masjid lainnya berada di kecamatan Ninh Phuoc termasuk Masjid Jamiul Niakmah. Seluruh muslim di propinsi tersebut berasal dari etnis Champa dengan populasi sekitar 1,500 orang (informasi dari Haji Dawous).

Etnis Champa sendiri awalnya menganut ajaran Hindu tetapi kemudian sebagian diantaranya memeluk Islam. Sekarang etnis Champa yang tidak menganut Islam sepertinya sudah tidak menganut Hindu lagi. Belum ada informasi lebih lanjut apakah mereka menjadi atheis atau menganut konfusianisme.

Catatan: foto Masjid Jamiul Niakmah yang lebih baru, bertanggal 15 Mei 2010 bisa dilihat di link ini

Monday, December 8, 2008

Idul Adha 1429H di Hanoi

Udara Hanoi hari Senin pagi, 8 Desember 2008, cukup bersahabat, sejuk tapi tidak terlalu dingin. Muslimin dari berbagai penjuru kota Hanoi, berbagai bangsa, berbagai busana berdatangan menuju masjid satu-satunya di ibukota Vietnam. Bahkan masyindo dari Quang Ninh pun 'turun gunung'. Gema takbir berkumandang melalui pengeras suara di 12 Hang Luoc, alamat masjid Al Nour (begitu tulisan yang tertera di atas gerbang utama).

Jam 07.10 masjid sudah mulai penuh. Beberapa orang yang datang belakangan harus berdiri di belakang, menunggu sholat Ied dimulai. Saat semua orang berdiri, akan tersedia ruangan lebih banyak sehingga yang berdiri di belakang bisa memasuki barisan shaf. Jam 08.30 kumandang takbir berhenti. Sholat Ied akan dimulai.

Seusai sholat Ied, beberapa jamaah tetap tinggal di masjid untuk bersalaman saling memaafkan. Teman-teman dari Indonesia juga gak ketinggalan salam-salaman, becanda, dan foto-foto tentunya.

Cau Lac Bo 'anak kost'


Bersama imam masjid Al Nour, anh Abdussalam


Peace man!

Dari masjid masyindo terus berkunjung ke rumah pak Sugeng - bu Eko, katanya disediakan sarapan! Ini harapan satu-satunya menikmati suasana lebaran haji semirip mungkin dengan di kampung sendiri. Berangkat dong!

Suasana silaturrahim di rumah pak Sugeng - bu Eko memang hangat, suasananya maupun makanannya. Pokoknya judulnya 'Gembira' deh.

Anh Dinda, anh Lam, anh Sugeng va anh Rizal


Anh Ade, anh Khoe, anh Leksi va anh Herianda


Repot ngabsennya nih...


Em Dian va chu nha co Sugeng

Co Sarah, co Hera va co Noni

Rupanya sarapan lebaran a la pak Sugeng - bu Eko itu baru babak pertama. Di babak kedua, giliran pak Tobing dan bu Endang mengundang masyindo untuk berkunjung. Kesempatan emas! Tapi sayang sekali, hari ini tetep masuk kantor dan diberi ijin untuk sholat Ied saja. Jadi terpaksa tidak bisa berkunjung ke rumah pak Tobing - bu Endang.

Selamat Idul Adha 1429H, mohon maaf lahir dan batin.